Selasa, 26 April 2016

Field Note Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa



Field Note
1.      CIRI-CIRI AGAMA JAWA
TABEL STRUKTUR SOSIAL ORANG JAWA DI MOJOKUTO
DIMENSI
ABANGAN
SANTRI
PRIYAYI
Aspek penekanan agama
menekankan aspek-aspek animisme-sinkretisme Jawa
menekankan aspek-aspek Islam sinkretik
Menekankan ke arah Hinduistik
Pusat Tempat Tinggal (Dominan)
intinya berpusat di pedesaan
intinya berpusat di tempat perdagangan atau pasar
intinya berpusat di kantor pemerintahan, di kota
Dominasi Golongan Pekerjaan
masyarakat kaum tani desa
dimanifestasikan sebagai pedagang, petani-petani kaya
golongan pegawai birokrasi, birokrat-birokrat pemerintah
Ritual-ritual atau tradisi
Tradisi Petungan, tradisi slametan
pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah
cenderung ke arah Hinduistik, mistik, aestitisisme dan kesadaran akan pangkat. Seperti bentuk tapa dan semedi dalam keadaan ngesti
Pemberian Kekuasaan
warisan kesukuan
Karismatik
secara turun temurun (garis keturunan)
Wujud Citra Agama
kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib. Serta lebih identik dengan tradisi-tradisi rakyat
bersungguh-sungguh sebagai pemeluk agama Islam dengan mengacu pada nilai-nilai dan moralitas serta tradisi Islam dalam pandangan Al-Quran.
Menjunjung tinggi etika dalam bertingkah dan berbicara
Kelas sosial
Kelas bawah, terdiri dari petani dan proletar
Kelas menengah, terdiri dari petani kaya di desa dan pedagang
Kelas atas, golongan bangsawan , kaum elite, keturunan raja-raja besar Jawa
Penguasa
Rakyat
para kyailah yang berkuasa
Raja, pemimpin di pemerintahan
Mempertahankan golongan
Mengadakan upacara di hari-hari besar jawa  
mengembangkan pola pendidikan yang khusus dan terus menerus. Di antaranya pondok (pola santri tradisional), langgar dan masjid (komunitas santri lokal), kelompok tarekat (mistik Islam tradisonal) dan model sekolah yang diperkenalkan oleh gerakan modernis.
Menanamkan kepercayaan dan nilai-nilai, serta etika terkait hinduistik.


1.      METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data Abangan, Santri dan Priyayi
Adapun mengenai metode kerja yang digunakan Geertz dalam penyusunan buku The Religion of Java ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Geertz sendiri, meliputi tiga tahapan. Tahap Pertama, Persiapan intensif dalam Bahasa Indonesia di Universitas Harvard, yang kemudian dilanjutkan dengan mewawancarai sarjana-sarjana Belanda yang ahli tentang Indonesia di Universitas Leiden dan di Tropical Institute, Amsterdam, pada bulan Juli sampai Oktober 1952.
Tahap Kedua, dari bulan Oktober 1952 sampai Mei 1953 mempelajari bahasa Jawa di Yogyakarta dengan mempergunakan mahasiswa-mahasiswa UGM sebagai media untuk memperoleh pengetahuan umum mengenai kebudayaan dan kehidupan kota Jawa. Pada tahap ini juga dilakukan wawancara dengan pemimpin-pemimpin agama dan politik di Jakarta, sekaligus mengumpulkan statistik dan menyelidiki organisasi birokrasi pemerintah pada umumnnya dan Departemen Agama pada khususnya.
Tahap Ketiga, antara Mei 1953 sampai September 1954, yang merupakan masa penelitian lapangan yang sesungguhnya, dan dilakukan di Mojokuto. Dalam tahap ini, Geertz beserta istrinya tinggal di rumah seorang buruh kereta api di ujung kota.
Selama berada di Mojokuto ini, Geertz mengaku bahwa pengumpulan data dalam penelitiannya –sebagian besar- tidak dilakukan melalui wawancara resmi dengan informan khusus, tetapi lebih sering dilakukan dengan kegiatan observasi-partisipasi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan Geertz yang sering mengikuti perayaan umum, rapat-rapat organisasi, upacara-upacara dan sebagainya.
Dengan demikian, setelah membaca buku “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa” serta sumber-sumber lain, secara umum dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan oleh Geertz dalam penelitian lapangan ini adalah penguasaan bahasa lokal, pemanfaatan banyak informan lokal, pembagian tugas dengan tim peneliti lain, pendalaman topik-topik tertentu yang membutuhkan detail, dan pengumpulan data-data statistik. Dan bagian terbesarnya digunakan untuk kegiatan observasi-partisipatif.
Kaitannya dengan pemilihan kota “Mojokuto” sebagai obyek penelitiannya, menurut Geertz karena Indonesia pada tahun 1950-an dianggap sebagai salah satu negara yang memiliki konstitusi yang paling maju di dunia, yang menjamin kebebasan dan kaya akan budaya dan model keberagamaannya. karena kota kecil itu mempunyai penduduk yang melek huruf, dengan tradisi yang tua, urban, sama sekali tidak homogen serta sadar dan aktif secara politik. Di sana tampak jelas kebudayaan bukanlah sesuatu yang serba utuh dan padu, melainkan penuh variasi dan diferensiasi. Namun bagi Geertz, “Mojokuto” merupakan suatu tempat di mana makna “kejawaan” itu dibumikan, begitu complicated akibat benturan budaya, dimana Islam, Hinduisme, dan tradisi animisme pribumi “berbaur” dalam satu sistem sosial.
2.      RESUME THE RELIGION OF JAVA : SEBUAH KOMENTAR (HARSJA W. BACHTIAR)
A.    PENDAHULUAN
The Religion Of java ditulis oleh Clifford geertz, guru besar pada university of Chicago, yang telah melakukan lapangan di mojokuto dari bulan mei 195 sampai bulan September 1954. Studi itu merupakan sebuah laporan yang sangat cermat. Banyak tatanan lapangan telah disisipkan ke dalam teks untuk menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh informan-informan yang bersangkutan selama dilakukannya pekerjaan lapangan. The religion of java disambut dengan baik. Ia menarik perhatian para ahli antropologi, sosiologi, orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama islam, dan Indonesia, serta ahli-ahli ilmu politik yang menaruh minat dalam hubungan abtara agama dan pwerilaku politik. Itu dipakai sebagai buku referensi  oleh banyak orang yang berminat dalam studi tentang agama atau kebudayaan dan masyarakat jawa.
Tahun 1960 pustakan tentang sosiologi agama dan kepustakaan tentang kebudayaan dan masyarakat jawa telah dipercaya oleh sebuah studi terperinci
Didalamnya terdapat secara melimpah bahan-bahan dekstriptif yang terperinci tentang sejumlah besar aspek kepercayaan dan prsktek keagamaan sebagaimana yang telah diamati oleh penulisnya dari sebuah kota jawa tertentu, data yang mencerminkan seorang pekerja lapangan yang rajin juga diingat terbatasnya waktu yang tersedia baginya untuk meneliti suatu soal yang begitu rumit.


B.     PENGERTIAN TENTANG AGAMA
            Pengertian tentang agama jika konsep tentang “sistem keagamaan yang umum dijawa” itu mengacu kepada agama-agama pendududuk asli mojokuto, maka orang tentu mengharapkan suatu deskripsi tentang agama-agama berikut ini, dengan sendirinya dalam versi-versi setempatnya : islam, protestan (dimojokuto terdapat Jemaah protestan yang kecil), katolik (dimojokuto kebanyakan orang katolik adalah cina, akan tetapi disana terdapat juga sejumlah orang jawa katolik), agama jawa, animisme, dan mungkin juga agama hindu dan agama budha, meskipun kedua agama yang disebut paling akhir itu mungkin tidak dijumpai dalam bentuk-bentuk tersendiri.

C.      VARIAN AGAMA MENURUT Dr.GEETZ
            Menurut kepercayaan agama, referensi etis dan idiologi politik mereka – maka terdapatlah 3 tipe budaya utama. Ketiga tipe itu dinamakan berturut-turut abangan, santri, dan priyayi. Abangan koma yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsur petani desa penduduk : santri, yang menekankan aspek – aspek islam sinkrotisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsur pedangang (dan juga unsur” tertentu kaum tani), dan priyayi, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan  dengan unsur brirokrasi ( Geertz 1960 : 6 ). Perbedaan antara abangan dan santri diadakan apabila penduduk digolong-golongkan menurut prilaku keagamaan. Seorang snatri lebih taat kepada agama dibandingkan dengan seorang abangan, sedangkan ukuran ketaatan itu, tergantung kepada nilai-nilai pribadi orang-orang yang menggunakan istilah-istilah itu istilah priyayi mengacu kepada orang-orang kelas sosial tertentu, yang menurut hukum merupakan kaum elit tradisional : yang mengacu kepada orang-orang yang menurut hukum dianggap berbeda dari rakyat biasa yang disebut wongwidah, wong cilik, atau, bagi kaum mayoritas wong tani.
            Bagian yang terakhir membicarakan masalah konflik dan intregrasi dari ketiga varian agama itu, atau lebih tepat lagi masalah konflik dan intregrasi dari masyarakat mojokuto secara keseluruhan. Pembahasan tentang hubungan-hubungan diantara ketiga istilah itu, dan tentang apa yang dimaksutkan dengan istilah – istilah itu dalam hal pembedaan antara santri dan abangan, maka sebagai mana telah dikemukakan, orang-orang yang berlainan dapat menganut norma-norma yang berlainan tentang ketaatan kepada agama. Seseorang yang dianggap sebagai taat kepada agama pada seseorang, jadi sebagai santri.

D.    “ADAT” HARUS DIBEDAKAN DALAM AGAMA
            Kita harus menyadari perbedaan antara adat atas sistem normatif tradisional, dan agama, dalam artinya yang luas sekalipun pola-pola prilaku anggota masyarakat setempat diindonesia sayngat ditentukan oleh norma-norma tradisional yang diakui dan dipatuhi, yang secara umum dikenal sebagai adat akan tetapi dapat dikenal juga dengan isitilah-istilah lain diberbagai tempat. Adat menetapkan apa yang diharuskan, dibenarkan atau diijinkan, dicela atau tegas-tegas dilarang dalam situasi – situasi tertentu adat dianggap, meskipun tidak selamanya dipatuhi sebagai satu dan banyak masyarakat masih sebagai satu-satunya norma-norma yang sah yang harus dijadikan pegangan.
            Dimojokuto, adat penduduknya dengan sendirinya adalah adat jawa (selamatan sunatan) perbedaan antara adat dan agama, apabila disadari oleh orang maka dalam hal yang demikian adalah lebih tepat untuk menganggap pola prilaku yang bersangkutan sebagai satu pola prilaku yang ditentukan secara normative dan bukan sebagai suatu petunjuk tentang adanya “kekuatan batin”
Agama yang berbeda dari adat dapat diartikan sebagai satu sistem kepercayaan saja jadi disini hendak dikemukakan bahwa dalam melukiskan agama dalam masyrakat Indonesia, seperti dimpjokuto, pola-pola prilaku yang dimanifestasikan sebagai pemenuhan norma-norma adat.

E.     MASALAH SINKRETISME AGAMA
Sinkretisme agama, fenomena dilukiskan sebagai suatu sistem agama tersendiri yang telah menyerap unsure-unsur system agama lainnya sedemikian rupa sehingga unsure-unsur asing itu, bersama-sama dengan inti aslinya. Diangggap sebagai komponen agama dasar agama tersebut. Gejala itu dapat dilihat dalam bentuk suatu kolektifitas yang berorientasi kepda agama, dimana anggota-anggotanya menganut kepercayaan, atau mengadakan upacara, yang merupakan unsur pokok berbagai sistem agama.
Disini hendak dikemukakan bahwa tingkat personalitas, yang bagaimanapun merupakan suatu masalah yang bersifat menentukan mengingat kenyataan bahwa data-da    ta lapangan sering kali diperoleh dari perorangan, sedikitnya ada 4 kemungkinan yang berbeda mengenai manifestasi agama. Pertama, ada kemungkinan bahwa seseorang telah menyakini kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma satu agama tertentu. Kedua, seseorang telah menyakini kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma suatu agama yang benar-benar sinkretik dan ia anggap sebagai system kepercayaan, ketiga, seseorang telah menyakini kepercayaan, nilai-nilai dan norma-norma berbagai agama yang berlaku bagi keadaan-keadaan tertentu dan karenanya diungkapkan perenan khusus yang cocok untuk situasi khusus. Keempat, seseorang mungkin telah menyakini kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai dan norma yang merupakan unsure sejumlah system agama yang berbeda satu sama lain, dimana tiap komplek unsure yang bertentangan diisolir dari yang lainnya.
F.      AGAMA JAWA
Agama jawa pada pokoknya dimanifestasikan sebagai pemujaan nenek moyang, nenek moyang itu / leluhur yang terdekat, leluhur tertentu, dari masa lampau yang lebih jauh, atau pencipta alam semesta/ dianggap sebagai sumber kekuasaan hidup dan tanpa itu yang bersangkutan tidak akan hidup. Mereka telah memberikan kepada yang masih hidup satu kebudayaan, satu peradaban, yang dianggap telah menempatkan mereka pada tingkat sosial dan kerohanian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk lainnya dipulau Indonesia.
Agama jawa jarang dimanifestasikan dalam bentuknya yang murni. Ilmu kejawen, “ilmu orang jawa’ yang oleh dr geertz dilukiskan sebagai satu komponen dari mistik priyayi, merupakan manifestasinya yang paling nyata, meskipun disini perlu dijelaskan bahwa ilmu kejawen bukanlah suatu pola kebudayaan yang hanya terdapat pada golongan priyayi saja.

G.    VARIAN AGAMA ABANGAN
Tradisi abangan, yang pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan slametan, suatu kompleks kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, ilmu ghaib, berjiwa sederhana. Inti ritual terdiri dari slametan atau penjamuan untuk lingkungan tetangga. Abangan adalah kelompok masyarakat yang menekankan aspek-aspek animisme-sinkretisme Jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsur petani desa, meskipun ini bukan sesuatu asoasiasi yang absolut. Tradisi keagamaan kaum abangan mengacu pada tradisi rakyat yang pokok, misalnya tradisi slametan. Varian agama abangan ini lebih mencerminkan pemberian tekanan pada aspek-aspek animisme. Salah satu ciri orang kaum abangan adalah sikap masa bodoh terhadap ajaran dan lebih menekankan aspek perayaan ritual-ritual upacara adat.
Tradisi keagamaan yang lain adalah petunganPetungan yaitu suatu sistem tradisional Jawa untuk menetapkan hari-hari yang baik. Petungan biasa digunakan untuk acara perkawinan dan acara-acara penting lainnya. Jadi, orang abangan adalah mereka yang tidak melibatkan diri secara aktif dalam agama Islam dan lebih identik dengan tradisi-tradisi rakyat.

H.    VARIAN AGAMA SANTRI

Santri adalah kelompok masyarakat yang menekankan aspek-aspek Islam sinkretik dimana pada umumnya diasosiasikan sebagai pedagang dan petani-petani kaya. Sebagaimana dalam kaum abangan, asosiasi ini tidaklah sesuatu yang absolut.
Santri diidentifikasikan dengan mereka yang bersungguh-sungguh sebagai pemeluk agama Islam dengan mengacu pada nilai-nilai dan moralitas serta tradisi Islam. Apakah seseorang menganggap dirinya santri atau bukan itu tergantung kepada pengertian orang itu sendiri mengenai santri. Seseorang menganggap dirinya santri tidak dengan sendirinya dianggap sebagai santri oleh oranglain, pun sebaliknya. Tidak ada proses inisiasi formal yang dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan seseorang sebagai santri atau non-santri.
Sebagian orang Jawa membagi varian santri ke dalam beberapa kelompok, yaitu:
1)      Santri leres, yaitu santri-santri yang berada di lingkungan pondok pesantren yang rajin belajar ilmu keagamaan serta taat dan patuh menjalankan ibadah
2)      Santri blikon, yaitu mereka yang taat dan berpengetahuan tetapi tidak menjalankan ritual-ritual yang diwajibkan.
3)      Santri meri, yaitu mereka yang tidak berilmu tapi dengan cermat menjalankan pola perilaku yang diwajibkan bagi santri.
4)      Santri blater, yaitu orang-orang yang taat dan fanatik. Keberadaan mereka lebih banyak merugikan masyarakat daripada menguntungkan.
5)      Santri ulia, yaitu mereka yang menganggap sembahyang dan berdoa sebagai suatu kesenangan sehingga hari-harinya dipenuhi dengan sembahyang dan berdoa.

I.       VARIAN AGAMA PRIYAYI
Pada mulanya istilah priyayi hanya disandangkan bagi golongan bangsawan secara turun temurun namun sejak masa penjajahan Belanda istilah  priyayi juga dialamatkan pada birokrat-birokrat pemerintah. Kaum priyayi memiliki gelar kehormatan dan merupakan kaum elite dalam masyarakat tradisional. Tradisi kaum priyayi cenderung ke arah Hinduistik, mistik, aestitisisme dan kesadaran akan pangkat. Secara umum, seorang priyayi dianggap mempunyai pengetahuan yang cukup dalam hal kesusastraan dan filsafat serta terlatih pada kesenian-kesenian klasik.

DAFTAR PUSTAKA
Geertz, Clifford.1983. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya. Jakarta. Diterjemahkan oleh Aswad Mahasin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar